Alasan Seseorang Suka Menyakiti Diri Sendiri Saat Stres
Ketika tekanan hidup terasa terlalu berat, sebagian orang dapat meresponsnya dengan cara yang sulit dipahami oleh orang lain. Salah satunya adalah melukai tubuh sendiri sebagai cara menghadapi emosi yang terasa tidak tertahankan. Perilaku ini sering membuat orang di sekitarnya bertanya-tanya karena terlihat bertentangan dengan naluri untuk menjaga diri. Padahal, bagi orang yang mengalaminya, tindakan tersebut dapat terasa seperti jalan keluar sementara dari tekanan yang sangat kuat. Alasan Seseorang Suka menyakiti diri sendiri saat stres tidak selalu sederhana, karena perilaku tersebut dapat muncul ketika seseorang merasa kewalahan dan kesulitan menemukan cara lain untuk mengelola tekanan emosional. UNICEF menjelaskan bahwa stres berlebihan dapat memengaruhi suasana hati, kesehatan mental, perilaku, serta kemampuan seseorang menghadapi situasi sulit.
Perilaku menyakiti diri sendiri juga tidak selalu berarti seseorang ingin mengakhiri hidup. NHS menjelaskan bahwa sebagian orang melakukan tindakan tersebut untuk menghadapi tekanan emosional, mengurangi ketegangan, mencari rasa kendali, atau merespons pikiran yang mengganggu. Namun, perilaku ini tetap perlu diperhatikan karena terdapat hubungan yang jelas antara riwayat menyakiti diri dan risiko munculnya pikiran atau perilaku bunuh diri.
Beban Emosional
Tekanan yang memicu perilaku tersebut tidak selalu berasal dari satu kejadian besar. Sering kali, masalah kecil menumpuk dalam waktu lama hingga kemampuan seseorang untuk menghadapinya terasa semakin terbatas. Tekanan pekerjaan, konflik keluarga, masalah hubungan, kesepian, pengalaman kehilangan, perundungan, kecemasan, hingga rendahnya penghargaan terhadap diri sendiri dapat menjadi bagian dari beban tersebut. NHS juga mencatat bahwa penyebabnya dapat berkaitan dengan pengalaman masa lalu maupun keadaan yang sedang berlangsung.
Karena itu, penting untuk tidak mencari satu penyebab yang berlaku bagi semua orang. Dua orang dapat melakukan perilaku serupa, tetapi memiliki latar belakang dan kebutuhan emosional yang sangat berbeda. Bahkan, alasan seseorang dapat berubah dari waktu ke waktu. Pada suatu masa, perilaku tersebut mungkin muncul ketika seseorang merasa marah, sedangkan pada masa lain pemicunya dapat berupa rasa kosong, takut, atau tidak berdaya.
Alasan Seseorang Suka Menyakiti Diri Sendiri Saat Stres dan Keinginan Meredakan Emosi
Salah satu penjelasan yang paling sering ditemukan adalah keinginan untuk mengurangi tekanan emosional yang sudah terlalu kuat. Ketika seseorang mengalami kecemasan, kemarahan, kesedihan, atau ketegangan dalam waktu lama, tubuh dan pikiran dapat terasa seperti berada dalam keadaan siaga terus-menerus. Dalam kondisi tersebut, tindakan tertentu dapat dianggap sebagai cara tercepat untuk mengalihkan perhatian dari perasaan yang sulit ditanggung. Data Adult Psychiatric Morbidity Survey 2023–2024 di Inggris menunjukkan bahwa 83,1 persen orang dewasa yang pernah menyakiti diri melaporkan melakukannya untuk meredakan perasaan tidak menyenangkan seperti marah, tegang, cemas, atau depresi.
Rasa lega tersebut biasanya bersifat sementara. Setelah tekanan menurun, seseorang dapat kembali menghadapi masalah yang sama. Bahkan, sebagian orang kemudian merasakan malu, bersalah, atau menyesal. Akibatnya, terbentuk siklus yang sulit dihentikan karena tekanan kembali meningkat dan perilaku lama terasa seperti satu-satunya cara yang sudah dikenal.
Perasaan Kehilangan Kendali
Rasa kehilangan kendali juga dapat memainkan peran penting. Ketika kehidupan terasa dipenuhi keputusan orang lain, konflik, tuntutan, atau keadaan yang tidak bisa dikendalikan, seseorang mungkin mencari sesuatu yang masih terasa berada dalam kuasanya. Tubuh sendiri kemudian dapat dianggap sebagai satu-satunya wilayah yang dapat dikendalikan. Mayo Clinic mencatat bahwa tindakan tersebut pada sebagian orang dapat menjadi upaya untuk mendapatkan kembali rasa kendali ketika situasi kehidupan terasa tidak terkendali.
Namun, rasa kendali yang muncul tidak menyelesaikan sumber masalah. Konflik keluarga tetap ada, tekanan pekerjaan tetap menunggu, dan masalah hubungan belum tentu berubah. Karena itu, tindakan tersebut hanya memberikan perubahan sesaat pada pengalaman emosional. Dalam jangka panjang, seseorang justru membutuhkan cara lain untuk menghadapi situasi yang membuatnya merasa tidak berdaya.
Alasan Seseorang Suka Menyakiti Diri Sendiri Saat Stres dan Kesulitan Mengungkapkan Perasaan
Tidak semua orang mudah menjelaskan apa yang sedang dirasakan. Ada orang yang tumbuh dalam lingkungan yang membuat mereka terbiasa menyimpan masalah. Ada pula yang takut dianggap lemah ketika membicarakan kesedihan, kemarahan, atau ketakutan. Akibatnya, perasaan yang tidak tersampaikan dapat menumpuk tanpa mendapatkan ruang untuk diproses.
Dalam keadaan tertentu, tindakan terhadap tubuh dapat menjadi bentuk komunikasi ketika kata-kata terasa sulit digunakan. Hal ini bukan berarti setiap tindakan tersebut dilakukan demi mencari perhatian. NHS menekankan bahwa menyakiti diri dapat menjadi cara seseorang mengekspresikan tekanan emosional atau meminta bantuan, sementara perilaku tersebut sering kali justru disembunyikan dari orang lain.
Alasan Seseorang Suka Menyakiti Diri Sendiri Saat Stres dan Rasa Mati Rasa
Ada pula orang yang tidak merasakan emosi secara kuat, tetapi justru merasa kosong atau mati rasa. Kondisi tersebut dapat terasa membingungkan karena seseorang mungkin tidak sedang menangis atau terlihat sangat sedih. Namun, bukan berarti tidak ada tekanan psikologis di baliknya. Beberapa orang menggambarkan tindakan menyakiti diri sebagai usaha untuk kembali merasakan sesuatu ketika mereka merasa terputus dari emosinya sendiri.
Mayo Clinic menyebutkan bahwa sebagian orang dapat menggunakan perilaku tersebut untuk merasakan sesuatu ketika mengalami kekosongan emosional. Sementara itu, layanan CAMHS NHS juga menjelaskan bahwa perilaku tersebut pada sebagian orang dapat berkaitan dengan keinginan untuk merasakan sesuatu ketika mereka merasa mati rasa.
Keinginan Menghukum Diri
Perasaan bersalah dan membenci diri sendiri juga dapat menjadi faktor. Seseorang yang terus merasa dirinya gagal mungkin mulai memandang dirinya sebagai penyebab semua masalah. Jika pola pikir tersebut berlangsung lama, hukuman terhadap diri sendiri dapat terasa seperti sesuatu yang pantas diterima. Padahal, rasa bersalah tidak selalu mencerminkan kenyataan dan tidak seharusnya menjadi alasan untuk melukai tubuh.
Pengalaman traumatis, penolakan, perundungan, atau hubungan yang penuh tekanan dapat memperkuat pandangan negatif terhadap diri sendiri. NHS mencatat bahwa menyakiti diri dapat berkaitan dengan keinginan menghukum diri, sementara berbagai pengalaman sulit dapat menjadi sumber tekanan emosional yang mendasarinya.
Siklus Rasa Lega Sementara
Perilaku ini dapat dipahami sebagai sebuah siklus. Awalnya, tekanan emosional meningkat dan seseorang merasa tidak memiliki cara yang cukup efektif untuk mengatasinya. Setelah itu, muncul dorongan untuk melakukan tindakan yang pernah memberikan rasa lega. Ketika ketegangan menurun, muncul jeda emosional yang membuat perilaku tersebut terasa efektif untuk sementara.
Masalahnya, sumber tekanan belum hilang. Setelah beberapa waktu, emosi sulit dapat kembali muncul. Rasa bersalah atau malu juga dapat menambah beban baru. Kementerian Kesehatan RI menggambarkan perilaku ini sebagai upaya memperoleh ketenangan semu yang hanya berlangsung sementara, sehingga tekanan emosional dapat kembali muncul setelahnya.
Tidak Selalu Berarti Ingin Bunuh Diri
Salah satu kesalahpahaman yang cukup umum adalah menganggap semua tindakan menyakiti diri pasti merupakan percobaan bunuh diri. Faktanya, tidak semua orang yang melakukan tindakan tersebut memiliki keinginan untuk meninggal. Sebagian justru menggambarkan perilaku tersebut sebagai cara bertahan ketika tekanan emosional sudah terasa sangat berat.
Meski begitu, perbedaan tersebut tidak berarti perilakunya boleh diabaikan. Riwayat menyakiti diri memiliki hubungan dengan pikiran dan perilaku bunuh diri. Selain itu, tingkat keparahan cedera tidak selalu dapat diperkirakan hanya dari niat awal seseorang. Karena itu, tanda-tanda bahaya tetap perlu dianggap serius, terutama jika muncul pikiran untuk mengakhiri hidup atau cedera yang berat.
Alasan Seseorang Suka Menyakiti Diri Sendiri Saat Stres dan Faktor Psikologis Lain
Stres bukan satu-satunya faktor yang mungkin terlibat. Kesulitan mengatur emosi, kecemasan, depresi, trauma, rendahnya harga diri, dan beberapa kondisi kesehatan mental dapat berkaitan dengan perilaku tersebut. Namun, hubungan tersebut tidak berarti setiap orang dengan kondisi tertentu akan menyakiti dirinya. Sebaliknya, seseorang juga dapat melakukan perilaku tersebut tanpa memiliki diagnosis gangguan mental tertentu.
Mayo Clinic menjelaskan bahwa penyebabnya tidak sederhana dan tidak ada satu faktor tunggal yang dapat menjelaskan semua kasus. Karena itu, penilaian profesional biasanya melihat kehidupan seseorang secara lebih luas. Pemicu, pola emosi, hubungan sosial, kondisi psikologis, serta riwayat perilaku semuanya dapat menjadi bagian dari proses memahami masalah.
Alasan Seseorang Suka Menyakiti Diri Sendiri Saat Stres dan Pentingnya Bantuan Profesional
Jika perilaku tersebut terjadi berulang, bantuan profesional menjadi langkah yang penting. Tujuannya bukan sekadar menghentikan perilaku, tetapi memahami apa yang terjadi sebelum dorongan muncul. Dengan begitu, seseorang dapat mempelajari cara menghadapi tekanan tanpa terus bergantung pada tindakan yang membahayakan tubuh.
Psikoterapi dapat membantu seseorang mengenali pemicu, mengelola emosi, mengembangkan kemampuan menghadapi tekanan, dan mencari cara pemecahan masalah yang lebih sehat. Mayo Clinic juga menyebut terapi perilaku kognitif dan terapi perilaku dialektis sebagai beberapa pendekatan yang dapat digunakan sesuai kebutuhan. Pilihan terapi tetap perlu disesuaikan dengan kondisi dan penilaian tenaga kesehatan mental.
Cara Memberikan Dukungan
Ketika mengetahui seseorang melukai dirinya, respons pertama sangat menentukan. Memarahi, mempermalukan, mengancam, atau menyebutnya mencari perhatian dapat membuat orang tersebut semakin tertutup. Sebaliknya, pendekatan yang tenang dapat membuka kesempatan untuk membicarakan masalah yang sebenarnya. NHS menyarankan agar orang terdekat berusaha memahami emosi dan pengalaman seseorang tanpa menghakimi perilakunya.
Dukungan juga tidak berarti harus menangani semuanya sendirian. Orang terdekat dapat menawarkan diri untuk menemani mencari bantuan profesional. Jika terdapat luka yang membutuhkan pertolongan medis, penanganan fisik tetap penting. Pada saat yang sama, penyebab psikologisnya juga perlu mendapatkan perhatian agar masalah tidak hanya ditangani pada permukaannya.
Langkah Ketika Dorongan Muncul
Saat dorongan tersebut muncul, membuat jeda dapat menjadi langkah awal yang berguna. Seseorang dapat mencoba menjauh sejenak dari situasi yang memperbesar tekanan. Berbicara dengan orang yang dipercaya, menulis apa yang sedang dirasakan, melakukan latihan pernapasan, atau mengalihkan perhatian dengan aktivitas yang aman dapat membantu melewati puncak emosi. NHS juga menyarankan untuk mencoba menunda tindakan dan mencari aktivitas yang aman sampai dorongan tersebut mulai berkurang.
Namun, strategi sementara bukan pengganti pertolongan profesional. Jika dorongan semakin kuat, semakin sering muncul, atau disertai pikiran untuk mengakhiri hidup, seseorang sebaiknya segera mencari bantuan. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan menyediakan Healing119 sebagai layanan dukungan psikologis awal. Layanan tersebut dapat diakses melalui 119 ekstensi 8 atau melalui laman Healing119.id, dengan dukungan melalui panggilan suara dan chat WhatsApp.
Memahami Masalah Tanpa Menghakimi
Pada akhirnya, perilaku menyakiti diri lebih tepat dipahami sebagai tanda adanya tekanan yang membutuhkan perhatian. Tindakan tersebut memang berbahaya, tetapi menghakimi orang yang melakukannya tidak menyelesaikan sumber masalah. Di baliknya dapat terdapat emosi yang sulit dikendalikan, rasa kehilangan kendali, pengalaman traumatis, kekosongan emosional, atau kesulitan menemukan cara lain untuk menghadapi tekanan. Karena alasan setiap orang berbeda, pendekatan yang paling membantu adalah mencari tahu kebutuhan di balik perilaku tersebut.
Yang tidak kalah penting, seseorang tidak perlu menunggu sampai kondisinya menjadi sangat parah untuk mencari pertolongan. Membicarakan masalah dengan psikolog, psikiater, dokter, atau orang yang dipercaya dapat menjadi awal yang berarti. Jika terdapat bahaya langsung, cedera berat, atau dorongan bunuh diri, bantuan darurat harus dicari segera; di Indonesia, layanan kegawatdaruratan medis 119 dapat digunakan untuk kondisi medis darurat.

