Decision Making: Mengapa Kita Sering Sulit Memilih?
Decision Making sering dianggap sebagai kemampuan sederhana: melihat beberapa pilihan, mempertimbangkan keuntungan dan kerugiannya, lalu menentukan satu. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang bisa menghabiskan waktu lama hanya untuk memilih pekerjaan, membeli barang, menentukan tempat tinggal, bahkan memilih menu makan malam. Semakin penting konsekuensinya, semakin besar pula kemungkinan munculnya keraguan.
Kesulitan memilih bukan selalu berarti seseorang tidak mampu berpikir secara logis. Proses memilih dipengaruhi oleh emosi, pengalaman, tekanan waktu, jumlah informasi, kondisi mental, serta cara pilihan tersebut disajikan. Psikologi bahkan mempelajari pengambilan keputusan sebagai bidang yang melibatkan proses kognitif, sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Decision Making dan Cara Otak Menilai Pilihan
Setiap pilihan pada dasarnya membutuhkan proses penilaian. Kita perlu memahami situasi, memperkirakan konsekuensi, membandingkan alternatif, kemudian menentukan tindakan yang dianggap paling sesuai. Dalam proses tersebut, manusia tidak selalu menggunakan perhitungan yang panjang dan sadar. Sering kali, kita memakai jalan pintas mental atau heuristics untuk mengambil keputusan dengan lebih cepat.
Cara tersebut sebenarnya berguna karena kehidupan sehari-hari menghadirkan terlalu banyak informasi. Bayangkan jika seseorang harus menghitung seluruh kemungkinan sebelum memilih sarapan, pakaian, rute perjalanan, atau waktu berangkat kerja. Proses seperti itu akan menghabiskan perhatian yang sebenarnya bisa digunakan untuk hal lain. Karena itu, otak menggunakan pola yang sudah dikenal, pengalaman sebelumnya, dan perkiraan sederhana untuk mempercepat respons.
Mengapa Semakin Banyak Pilihan Justru Bisa Membingungkan?
Secara intuitif, banyak pilihan seharusnya terasa menyenangkan. Jika tersedia dua jenis sepatu, kita mungkin merasa cukup mudah memilih. Namun, ketika tersedia puluhan model dengan perbedaan bahan, warna, ukuran, harga, dan fitur, proses tersebut dapat berubah menjadi melelahkan. Kita bukan hanya memilih barang, tetapi juga harus menentukan kriteria mana yang paling penting.
Fenomena ini sering dikaitkan dengan choice overload. Penelitian yang dirangkum American Psychological Association menunjukkan bahwa banyaknya pilihan dapat membuat proses memilih menjadi lebih sulit dalam kondisi tertentu. Penelitian lain juga menemukan bahwa tekanan waktu dapat berperan dalam munculnya kesulitan memilih ketika pilihan yang tersedia semakin banyak. (APA)
Decision Making: Informasi yang Terlalu Banyak Tidak Selalu Membantu
Masalah berikutnya muncul ketika seseorang berusaha mencari informasi sebanyak mungkin sebelum menentukan pilihan. Pada awalnya, mencari informasi memang masuk akal. Kita ingin mengetahui harga, kualitas, risiko, pengalaman orang lain, dan konsekuensi dari setiap alternatif.
Namun, setelah melewati titik tertentu, informasi tambahan justru dapat membuat proses semakin rumit. Perbedaan kecil yang sebelumnya tidak dianggap penting tiba-tiba terlihat menentukan. Akibatnya, seseorang terus membuka ulasan, membandingkan spesifikasi, menonton video, membaca komentar, lalu kembali ke pilihan pertama. Bukannya semakin yakin, ia malah menemukan alasan baru untuk meragukan keputusan sebelumnya.
Decision Making Dipengaruhi oleh Emosi
Keputusan manusia tidak hanya dibuat berdasarkan angka dan fakta. Emosi juga ikut memberikan sinyal mengenai bagaimana sebuah pilihan dipersepsikan. Rasa takut dapat membuat risiko terlihat lebih besar, sedangkan rasa antusias dapat membuat manfaat suatu pilihan terasa lebih menarik daripada sebelumnya. Karena itu, dua orang yang memiliki informasi sama belum tentu memberikan penilaian yang sama terhadap pilihan tertentu.
Hal ini tidak berarti emosi selalu mengganggu keputusan. Dalam banyak situasi, perasaan dapat menjadi bagian dari proses penilaian yang berguna. Masalah biasanya muncul ketika emosi yang sangat kuat membuat seseorang sulit memperhatikan informasi yang bertentangan dengan keinginannya. APA juga menjelaskan bahwa pikiran, perasaan, perilaku, sikap, heuristik, dan bias kognitif dapat memengaruhi proses pengambilan keputusan. (APA)
Decision Making: Stres Membuat Pilihan Terasa Lebih Berat
Keadaan mental seseorang ketika mengambil keputusan juga penting. Ketika sedang mengalami tekanan tinggi, perhatian dapat menjadi lebih sempit dan seseorang bisa lebih sulit memikirkan konsekuensi jangka panjang. Dalam kondisi tertentu, orang yang mengalami stres cenderung menunda pilihan, mempertahankan keadaan yang sudah ada, atau menggunakan cara berpikir yang membutuhkan usaha lebih sedikit. (APA)
Salah satu penjelasan yang banyak dibahas adalah berkurangnya sumber daya kognitif ketika seseorang menghadapi tekanan atau kelelahan mental. APA mencatat bahwa kelelahan kognitif dapat berkaitan dengan berkurangnya perhatian, pemrosesan informasi yang lebih lambat, meningkatnya kesalahan, serta gangguan pada proses pengambilan keputusan. (Kamus APA)
Apa Itu Decision Fatigue?
Setelah membuat banyak pilihan secara berturut-turut, seseorang bisa merasa tidak ingin memikirkan pilihan berikutnya. Kondisi ini sering disebut decision fatigue. Istilah tersebut menggambarkan keadaan ketika aktivitas memilih yang terus-menerus terasa melelahkan dan dapat membuat seseorang mengambil keputusan dengan usaha yang lebih rendah.
Contohnya cukup sederhana. Pagi hari seseorang masih teliti memilih pekerjaan yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Setelah seharian menentukan jadwal, membalas pesan, menangani pekerjaan, memilih prioritas, dan menghadapi berbagai persoalan, ia mungkin menjadi jauh lebih malas mempertimbangkan pilihan kecil pada malam hari. Penelitian yang dibahas APA menemukan bahwa setelah melakukan serangkaian pilihan, peserta penelitian dalam kondisi tertentu menjadi lebih cenderung menerima pilihan bawaan pada keputusan berikutnya. (APA)
Bias Kognitif Dapat Mengubah Cara Kita Menilai
Manusia juga tidak selalu menilai informasi secara netral. Cognitive bias merupakan pola penyimpangan sistematis dalam penilaian yang dapat memengaruhi bagaimana informasi diproses. Salah satu contohnya adalah confirmation bias, yaitu kecenderungan untuk lebih memperhatikan atau mencari informasi yang mendukung keyakinan yang sudah dimiliki.
Ada pula framing effect, ketika cara sebuah informasi disampaikan memengaruhi penilaian meskipun informasi dasarnya tetap sama. Misalnya, seseorang dapat memberikan respons berbeda terhadap sebuah pilihan ketika hasilnya digambarkan sebagai peluang mendapatkan keuntungan dibandingkan sebagai kemungkinan mengalami kerugian. Bias seperti ini menjadi salah satu alasan mengapa cara sebuah pilihan disajikan dapat memengaruhi keputusan. (Noba)
Decision Making: Pengalaman Masa Lalu Ikut Membentuk Pilihan
Pengalaman sebelumnya juga mempunyai peran besar. Jika seseorang pernah mengalami hasil buruk setelah memilih sesuatu, pengalaman tersebut dapat membuatnya lebih berhati-hati ketika menghadapi situasi serupa. Sebaliknya, pengalaman positif dapat meningkatkan kepercayaan terhadap pola pilihan tertentu.
Namun, pengalaman masa lalu tidak selalu menjadi panduan sempurna. Situasi baru mungkin memiliki kondisi yang berbeda. Pilihan yang berhasil beberapa tahun lalu belum tentu memberikan hasil yang sama sekarang karena orang, lingkungan, harga, kebutuhan, dan risikonya dapat berubah. Oleh sebab itu, pengalaman sebaiknya digunakan sebagai informasi, bukan sebagai satu-satunya dasar keputusan.
Takut Menyesal Membuat Kita Sulit Menentukan Pilihan
Salah satu alasan seseorang terus menunda keputusan adalah ketakutan terhadap penyesalan. Kita sering membayangkan bagaimana perasaan jika ternyata pilihan yang diambil menghasilkan sesuatu yang buruk. Bahkan, terkadang kita bukan hanya takut terhadap hasil buruk, tetapi juga takut mengetahui bahwa pilihan lain ternyata lebih menguntungkan.
Masalahnya, hampir tidak ada keputusan penting yang memberikan kepastian mutlak. Memilih pekerjaan berarti menerima sejumlah ketidakpastian. Membeli rumah, memulai bisnis, memilih jurusan, atau pindah kota juga memiliki kemungkinan hasil yang tidak dapat diketahui sepenuhnya. Karena itu, menunggu sampai seluruh risiko hilang biasanya justru membuat keputusan tidak pernah selesai.
Status Quo Sering Terasa Lebih Aman
Ketika seseorang bingung memilih antara beberapa alternatif, mempertahankan keadaan sekarang dapat terasa sebagai jalan keluar. Tidak melakukan perubahan memang menghindarkan seseorang dari risiko langsung. Akan tetapi, tidak memilih pun sebenarnya merupakan sebuah keputusan.
Kecenderungan mempertahankan kondisi yang sudah ada dikenal sebagai status quo bias. Dalam kondisi tertentu, pilihan yang sudah berjalan terasa lebih mudah diterima karena konsekuensinya lebih familiar. Ketika seseorang lelah atau berada dalam tekanan, kecenderungan tersebut dapat menjadi semakin kuat karena mempertahankan pilihan lama membutuhkan evaluasi yang lebih sedikit. (APA)
Decision Making: Tekanan Waktu Mengubah Cara Kita Memilih
Waktu juga memiliki pengaruh besar. Ketika memiliki waktu cukup, seseorang dapat membandingkan alternatif dengan lebih tenang. Sebaliknya, tenggat yang sempit memaksa otak memprioritaskan informasi tertentu dan mengabaikan informasi lain.
Menariknya, penelitian tentang choice overload menunjukkan bahwa tekanan waktu sendiri dapat menjadi faktor penting dalam kesulitan menentukan pilihan. Dalam penelitian yang dibahas APA, peserta menghadapi tugas pemilihan kandidat dengan jumlah alternatif dan kondisi tekanan waktu yang berbeda. Hasil penelitian tersebut digunakan untuk menguji bagaimana tekanan waktu berhubungan dengan kecenderungan sulit menentukan pilihan. (APA)
Intuisi Tidak Selalu Berarti Keputusan Buruk
Tidak semua keputusan harus dibuat melalui analisis panjang. Dalam situasi tertentu, intuisi dapat membantu seseorang bertindak cepat, terutama ketika ia sudah memiliki pengalaman yang relevan. Seorang koki berpengalaman, misalnya, dapat mengenali perubahan tekstur makanan tanpa menghitung setiap variabel secara sadar.
Namun, intuisi juga mempunyai batas. Proses intuitif yang cepat dapat lebih rentan terhadap bias dalam situasi tertentu, sementara proses berpikir yang lebih lambat juga tidak otomatis bebas dari bias. Kajian yang dirangkum APA menunjukkan bahwa proses intuitif maupun proses deliberatif dapat memiliki kondisi tertentu ketika bias lebih mungkin muncul. (APA)
Cara Membuat Proses Memilih Lebih Sederhana
Langkah pertama adalah menentukan apa sebenarnya yang ingin dicapai. Banyak orang langsung membandingkan pilihan sebelum menentukan tujuan, sehingga mereka akhirnya membandingkan hal-hal yang tidak memiliki hubungan jelas. Dengan tujuan yang lebih spesifik, pilihan yang tidak relevan dapat disingkirkan sejak awal.
Selanjutnya, batasi jumlah kriteria yang benar-benar penting. Tidak semua perbedaan harus diperlakukan sebagai faktor penentu. Untuk keputusan sederhana, tiga sampai lima kriteria utama sering kali sudah cukup sebagai kerangka awal. Cara ini bukan berarti mengabaikan informasi, melainkan mencegah informasi kecil mengambil perhatian yang terlalu besar.
Bedakan Keputusan Besar dan Keputusan Kecil
Tidak semua pilihan membutuhkan tingkat analisis yang sama. Memilih menu makan siang tentu tidak memerlukan proses evaluasi seperti ketika memilih rumah atau pekerjaan. Jika semua pilihan diperlakukan seolah-olah memiliki konsekuensi yang sama, energi mental akan cepat terkuras.
Karena itu, keputusan dapat dikelompokkan berdasarkan dampaknya. Pilihan dengan konsekuensi rendah dapat dibuat lebih cepat, sementara keputusan yang memiliki dampak jangka panjang layak mendapatkan waktu dan informasi lebih banyak. Pembagian seperti ini membantu menghemat perhatian untuk persoalan yang memang membutuhkan pertimbangan serius.
Gunakan Batas Waktu untuk Menghindari Penundaan
Terlalu lama mempertimbangkan pilihan tidak selalu menghasilkan keputusan yang lebih baik. Pada titik tertentu, tambahan informasi hanya mengulang hal yang sudah diketahui. Karena itu, menetapkan batas waktu dapat membantu seseorang keluar dari siklus membandingkan tanpa akhir.
Batas waktu tentu harus disesuaikan dengan tingkat risiko. Keputusan sederhana mungkin hanya membutuhkan beberapa menit. Sebaliknya, keputusan besar dapat membutuhkan hari atau bahkan beberapa minggu. Yang penting, waktu tersebut digunakan untuk memperoleh informasi yang benar-benar relevan, bukan sekadar memperpanjang keraguan.
Tuliskan Alasan Memilih Sebelum Hasilnya Diketahui
Untuk keputusan yang cukup penting, menuliskan alasan sebelum bertindak dapat membantu memperjelas proses berpikir. Catatan tersebut bisa berisi tujuan, pilihan yang tersedia, risiko utama, serta alasan mengapa satu alternatif dianggap paling sesuai. Dengan begitu, seseorang dapat membedakan antara keputusan yang memang buruk dan keputusan yang sebenarnya masuk akal tetapi menghasilkan keadaan yang tidak diharapkan.
Cara ini juga membantu menghadapi hindsight bias, yaitu kecenderungan melihat suatu hasil seolah-olah sudah mudah diprediksi setelah hasil tersebut terjadi. Padahal, informasi yang tersedia sebelum keputusan dibuat sering kali jauh lebih terbatas dibandingkan informasi yang diketahui setelah semuanya terjadi. Memisahkan kualitas proses dari hasil akhirnya membuat evaluasi keputusan menjadi lebih objektif.
Tidak Semua Keputusan Harus Menghasilkan Kepastian
Pada akhirnya, kesulitan memilih sering muncul karena manusia menginginkan kepastian yang sebenarnya tidak selalu tersedia. Kita ingin mengetahui pilihan mana yang akan memberikan hasil terbaik sebelum mengambil tindakan. Sayangnya, banyak keputusan dibuat dalam kondisi informasi yang tidak lengkap dan masa depan yang belum pasti.
Karena itu, tujuan pengambilan keputusan yang sehat bukan selalu menemukan pilihan yang sempurna. Yang lebih realistis adalah membuat pilihan yang masuk akal berdasarkan tujuan, informasi, sumber daya, waktu, dan risiko yang tersedia pada saat itu. Dengan memahami bagaimana stres, jumlah pilihan, emosi, bias, pengalaman, dan kelelahan memengaruhi penilaian, seseorang dapat membuat proses memilih menjadi lebih terarah tanpa harus menghilangkan seluruh ketidakpastian.

